Monthly Archives: April 2014

Sejarah Batik di Tanah Jawa

Standard

Seni Batik Tradisional dikenal sejak beberapa abad yang lalu di tanah Jawa.  Kita akan mencoba menelusuri sejarah perjalan dan perkembangan batik di tanah Jawa.  Sejarah batik tidak akan lepas dari perkembangan seni batik di Jawa Tengah.  Salah satunya perkembangan Batik di Jogjakarta yang merupakan bagian dari perkembangan sejarah batik di Jawa Tengah, yang telah mengalami perpaduan beberapa corak dari daerah lain.

Perjalanan “Batik Jogya” berawal dari perjanjian Giyanti tahun 1755.  Perjanjian Giyanti adalah kesepakatan antara VOC, pihak Mataram (diwakili oleh Sunan Pakubuwana III), dan pihak pemberontak dari kelompok Pangeran Mangkubumi yang menjadi solusi bagi salah satu kerusuhan yang terus terjadi di Mataram sepeninggal Sultan Agung.  Perjanjian yang ditandatangani pada bulan 13 Februari 1755 ini secara de facto dan de jure menandai berakhirnya Kerajaan Mataram yang sepenuhnya independen. Nama Giyanti diambil dari lokasi penandatanganan perjanjian ini, yaitu di Desa Giyanti (ejaan Belanda, sekarang tempat itu berlokasi di Dukuh Kerten, Desa Jantiharjo), di tenggara kota Karanganyar, Jawa Tengah.

Salah satu isi perjanjian Giyanti tersebut adalah daerah atau Wilayah Mataram dibagi dua, satu bagian dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB II di Surakarta Hadiningrat, dan sebagian lagi dibawah kekuasaan Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang setelah dinobatkan sebagai raja bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Ngabdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang jumeneng kaping I, yang kemudian wilayah kerajaannya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Semua pusaka dan benda-benda keraton juga dibagi dua. Busana Mataraman dibawa ke Yogyakarta, Kangjeng Pangeran Mangkubumi berkeinginan melestarikannya.  Oleh sebab Sri Paduka Susuhunan PB III merancang tata busana baru dan berhasil membuat Busana Adat Keraton Surakarta yang berbeda dangan busana Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

Demikian pula dengan berkembangan batik, batik Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat mempunyai ciri khas tersendiri.  Batik Jogja mempunyai dua macam latar atau warna dasar yaitu putih dan hitam.  Sementara warna corak batiknya berwarna putih (warna kain mori), biru tua kehitaman dan coklat soga.  Sered atau pinggiran kain berwarna putih, diusahakan tidak sampai pecah sehingga kemasukan soga baik pada kain berlatar hitam maupun putih.

Daerah pembuat batik pertama di Jogjakarta ialah di desa Plered, pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga Keraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita abdi dalem ratu.  Dengan seiring perkembangan pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga Keraton lainnya yaitu berkembang di kalangan istri dari abdi dalem dan tentara-tentara/prajurit keraton.

Pada upacara resmi kerajaan keluarga keraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik.  Oleh karena kerajaan ini mendapat kunjungan dari rakyat dan rakyat tertarik pada pakaian-pakaian yang dipakai oleh keluarga Keraton dan ditiru oleh rakyat dan akhirnya meluaslah pembatikan keluar dari tembok Keraton.
Akibat dari peperangan antara raja-raja ataupun dengan belanda pada masa itu, banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru antara lain ke banyumas, pekalongan, ke daerah timur ponorogo, Tulungagung dan sebagainya.  Dengan demikian daerah pembatikan meluas sampai ke daerah-daerah tersebut. Menurut sejarah perkembangan perjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga-keluarga Keraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru.

Perang Pangeran Diponegoro melawan Belanda mendesak sang Pangeran dan keluarganya serta para pengikutnya harus meninggalkan daerah Kerajan.  Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat.  Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikut pangeran Diponegoro mengembangkan batik.
Ke Timur pulau Jawa, batik Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung.  Selain itu juga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura.  Sedangkan ke arah Barat pulau Jawa batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, dan Cirebon.

Etimologi Batik

Standard

Secara etimologi kata “batik” berasal dari gabungan dua kata dari bahasa jawa : “amba”, yang bermakna menulis dan “titik” yang bermakna titik.  Dalam bahasa jawa kuno halus “tulis” berarti “serat” dari kata “amba”.  Akhiran “tik” dalam kata batik bermakna menitik atau menetes, yang secara keseluruhan batik dapat diartikan menulis atau menggambar dengan rumit (kecil-kecil) menggunakan lilin pada sehelai kain/tekstil.  Pada kamus besar Bahasa Indonesia makna kata batik diartikan “kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pd kain itu, kemudian pengolahannya diproses dng cara tertentu”.